Follow by Email

Saturday, 21 April 2012

Tasawuf Al-Muhasibi

Al-Harits bin Asad Al-Muhasibi (W. 243 H) menempuh jalan tasawuf karena hendak keluar dari keraguan yang dihadapinya. Tatkala Al-Muhasibi mengamati madzhab-madzhab yang dianut umat Islam, ada sekelompok orang yang tahu benar tentang keakhiratan. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang mencari ilmu karena kesombongan dan memotivasi keduniaan.

1. Pandangan Al-Muhasibi tentang Ma’rifat

Al-Muhasibi berbicara pula tentang ma’rifat. Ia pun menulis sebuah buku tentangnya, namun dikabarkan bahwa ia tidak diketahui alasan-alasannya kemudian membakarnya. Ia sangat berhati-hati dalam menjelaskan batasan-batasan agama, dan tidak mendalami pengertian batin agama yang dapat mengaburkan pengertian lahirnya dan menyebabkan keraguan. 

Dalam konteks ini pula ia menuturkan sebuah hadits Nabi yang berbunyi: “Pikirkanlah makhluk-makhluk Allah dan jangan mencoba memikirkan dzat Allah sebab kalian akan tersesat karenanya.” Al-Muhasibi mengatakan bahwa ma’rifat harus ditempuh melalui jalan tasawuf yang mendasarkan pada kitab dan sunnah.12) 

Al-Muhasibi menjelaskan tahapan-tahapan ma’rifat sebagai berikut :
  • Taat, awal dari kecintaan kepada Allah adalah taat, yaitu wujud konkret ketaatan hamba kepada Allah
  • Aktivitas anggota tubuh yang telah disinari oleh cahaya yang memenuhi hati merupakan tahap ma’rifat selanjutnya
  • Allah menyingkirkan khazanah-khazanah dan keajaiban kepada setiap orang yang telah menempuh kedua tahap di atas
  • Sufi mengatakan dengan fana’ yang menyababkan baqa’
2. Pandangan Al-Muhasibi tentang khauf dan Raja’

Dalam pandangan Al-Muhasibi, khauf (rasa takut) dan raja’ (pengharapan) menempati posisi penting dalam perjalanan seseorang membersihkan jiwa. Pangkal wara’ menurutnya, ada ketakwaan; pangkal ketakwaan adalah instrosfeksi diri (musabat Al-nafs) ; pangkal introspeksi diri adalah khauf dan raja’; pangkal khauf dan raja’ adalah pengetahuan tentang janji dan ancaman ; pangkal pengetahuan tentang keduanya adalah perenungan. 15)

Khauf dan raja’; menurut Al-Muhasibi, dapat dilakukan dengan sempurna bila berpegang teguh pada Al-Qur'an dan As sunnah. Dalam hal ini, ia mengaitkan kedua sifat itu dengan ibadah haji dan janji serta ancaman Allah. Al-Muhasibi mengatakan bahwa Al-Qur'an jelas berbicara tentang pembalasan (pahala) dan siksaan. Ajakan-ajakan Al-Qur'an pun sesungguhnya dibangun atas dasar targhib (sugesti) dan tarhib (ancaman). Al-Qur'an jelas pula berbicara tentang surga dan neraka. 

Ia kemudian mengutip ayat-ayat berikut :


Artinya :

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (surga) dan dimata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)"
(QS.Adz-Dzariyyat,ayat:15-18).

Raja’ dalam pandangan Al-Muhasibi, seharusnya melahirkan alam saleh. Seseorang yang telah melakukan amal saleh, berhak mengharap pahala dari Allah.

DAFTAR PUSTAKA :



Tags : Tasawuf Al-Muhasibi, Pandangan tasawuf Al-Muhasibi, Pandangan Al-Muhasibi tentang Ma’rifat, Pandangan Al-Muhasibi tentang khauf dan Raja’

1 comment:

Komentar anda sangat penting bagi kami, silahkan berkomentar sesuai dengan isi judul postingan. Komentar yang berbau sara atau pornografi akan kami hapus. Buatlah diri anda senyaman mungkin di blog kami. Terimakasih..!