Follow by Email

Sunday, 1 December 2013

Monday, 18 November 2013

Sejarah singkat masuknya Agama Hindu di Indonesia

Masuknya agama Hindu ke Indonesia terjadi pada awal tahun Masehi, ini dapat diketahui dengan adanya bukti tertulis atau benda-benda purbakala pada abad ke 4 Masehi denngan diketemukannya tujuh buah Yupa peningalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Dari tujuh buah Yupa itu didapatkan keterangan mengenai kehidupan keagamaan pada waktu itu yang menyatakan bahwa: “Yupa itu didirikan untuk memperingati dan melaksanakan yadnya oleh Mulawarman”. Keterangan yang lain menyebutkan bahwa raja Mulawarman melakukan yadnya pada suatu tempat suci untuk memuja dewa Siwa. Tempat itu disebut dengan “Vaprakeswara”.

Masuknya agama Hindu ke Indonesia, menimbulkan pembaharuan yang besar, misalnya berakhirnya jaman prasejarah Indonesia, perubahan dari religi kuno ke dalam kehidupan beragama yang memuja Tuhan Yang Maha Esa dengan kitab Suci Veda dan juga munculnya kerajaan yang mengatur kehidupan suatu wilayah. Disamping di Kutai (Kalimantan Timur), agama Hindu juga berkembang di Jawa Barat mulai abad ke-5 dengan diketemukannya tujuh buah prasasti, yakni prasasti Ciaruteun, Kebonkopi, Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu dan Lebak. Semua prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan memakai huruf Pallawa.

Dari prassti-prassti itu didapatkan keterangan yang menyebutkan bahwa “Raja Purnawarman adalah Raja Tarumanegara beragama Hindu, Beliau adalah raja yang gagah berani dan lukisan tapak kakinya disamakan dengan tapak kaki Dewa Wisnu” Bukti lain yang ditemukan di Jawa Barat adalah adanya perunggu di Cebuya yang menggunakan atribut Dewa Siwa dan diperkirakan dibuat pada masa Raja Tarumanegara. Berdasarkan data tersebut, maka jelas bahwa Raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan memuja Tri Murti sebagai manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa.Selanjutnya, agama Hindu berkembang pula di Jawa Tengah, yang dibuktikan adanya prasasti Tukmas di lereng gunung Merbabu.Prasasti ini berbahasa sansekerta memakai huruf Pallawa dan bertipe lebih muda dari prasasti Purnawarman. Prasasti ini yang menggunakan atribut Dewa Tri Murti, yaitu Trisula, Kendi, Cakra, Kapak dan Bunga Teratai Mekar, diperkirakan berasal dari tahun 650 Masehi. Pernyataan lain juga disebutkan dalam prasasti Canggal, yang berbahasa sansekerta dan memakai huduf Pallawa. Prasasti Canggal dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 654 Caka (576 Masehi), dengan Candra Sengkala berbunyi: “Sruti indriya rasa”, Isinya memuat tentang pemujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahma sebagai Tri Murti.

Adanya kelompok Candi Arjuna dan Candi Srikandi di dataran tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad ke-8 Masehi dan Candi Prambanan yang dihiasi dengan Arca Tri Murti yang didirikan pada tahun 856 Masehi, merupakan bukti pula adanya perkembangan Agama Hindu di Jawa Tengah. Disamping itu, agama Hindu berkembang juga di Jawa Timur, yang dibuktikan dengan ditemukannya prasasti Dinaya (Dinoyo) dekat Kota Malang berbahasa sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuno. Isinya memuat tentang pelaksanaan upacara besar yang diadakan oleh Raja Dea Simha pada tahun 760 Masehi dan dilaksanakan oleh para ahli Veda, para Brahmana besar, para pendeta dan penduduk negeri. Dea Simha adalah salah satu raja dari kerajaan Kanjuruan. Candi Budut adalah bangunan suci yang terdapat di daerah Malang sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa Timur. Kemudian pada tahun 929-947 munculah Mpu Sendok dari dinasti Isana Wamsa dan bergelar Sri Isanottunggadewa, yang artinya raja yang sangat dimuliakan dan sebagai pemuja Dewa Siwa.Kemudian sebagai pengganti Mpu Sindok adalah Dharma Wangsa.Selanjutnya munculah Airlangga (yang memerintah kerajaan Sumedang tahun 1019-1042) yang juga adalah penganut Hindu yang setia.

Setelah dinasti Isana Wamsa, di Jawa Timur munculah kerajaan Kediri (tahun 1042-1222), sebagai pengemban agama Hindu. Pada masa kerajaan ini banyak muncul karya sastra Hindu, misalnya Kitab Smaradahana, Kitab Bharatayudha, Kitab Lubdhaka, Wrtasancaya dan kitab Kresnayana. Kemudian muncul kerajaan Singosari (tahun 1222-1292).Pada jaman kerajaan Singosari ini didirikanlah Candi Kidal, candi Jago dan candi Singosari sebagai sebagai peninggalan kehinduan pada jaman kerajaan Singosari. Pada akhir abad ke-13 berakhirlah masa Singosari dan muncul kerajaan Majapahit, sebagai kerajaan besar meliputi seluruh Nusantara.Keemasan masa Majapahit merupakan masa gemilang kehidupan dan perkembangan Agama Hindu.Hal ini dapat dibuktikan dengan berdirinya candi Penataran, yaitu bangunan Suci Hindu terbesar di Jawa Timur disamping juga munculnya buku Negarakertagama.

Selanjutnya agama Hindu berkembang pula di Bali.Kedatangan agama Hindu di Bali diperkirakan pada abad ke-8.Hal ini disamping dapat dibuktikan dengan adanya prasasti-prasasti, juga adanya Arca Siwa dan Pura Putra Bhatara Desa Bedahulu, Gianyar. Arca ini bertipe sama dengan Arca Siwa di Dieng Jawa Timur, yang berasal dari abad ke-8. Menurut uraian lontar-lontar di Bali, bahwa Mpu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali.Mpu Kuturan datang ke Bali pada abad ke-2, yakni pada masa pemerintahan Udayana.Pengaruh Mpu Kuturan di Bali cukup besar.Adanya sekte-sekte yang hidup pada jaman sebelumnya dapat disatukan dengan pemujaan melalui Khayangan Tiga. Khayangan Jagad, sad Khayangan dan Sanggah Kemulan sebagaimana termuat dalam Usama Dewa. Mulai abad inilah dimasyarakatkan adanya pemujaan Tri Murti di Pura Khayangan Tiga.Dan sebagai penghormatan atas jasa beliau dibuatlah pelinggih Menjangan Salwang.Beliau Moksa di Pura Silayukti.

Perkembangan agama Hindu selanjutnya, sejak ekspedisi Gajahmada ke Bali (tahun 1343) sampai akhir abad ke-19 masih terjadi pembaharuan dalam teknis pengamalan ajaran agama. Dan pada masa Dalem Waturenggong, kehidupan agama Hindu mencapai jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirartha (Dwijendra) ke Bali pada abad ke-16.Jasa beliau sangat besar dibidang sastra, agama, arsitektur.Demikian pula dibidang bangunan tempat suci, seperti Pura Rambut Siwi, Peti Tenget dan Dalem Gandamayu (Klungkung).

Perkembangan selanjutnya, setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan di Bali pembinaan kehidupan keagamaan sempat mengalami kemunduran.Namun mulai tahun 1921 usaha pembinaan muncul dengan adanya Suita Gama Tirtha di Singaraja. Sara Poestaka tahun 1923 di Ubud Gianyar, Surya kanta tahun1925 di SIngaraja, Perhimpunan Tjatur Wangsa Durga Gama Hindu Bali tahun 1926 di Klungkung, Paruman Para Penandita tahun 1949 di Singaraja, Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung, Wiwadha Sastra Sabha tahun 1950 di Denpasar dan pada tanggal 23 Pebruari 1959 terbentuklah Majelis Agama Hindu. Kemudian pada tanggal 17-23 Nopember tahun 1961 umat Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para Sulinggih di Campuan Ubud yang menghasilkan piagam Campuan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu. Dan pada tahun 1964 (7 s.d 10 Oktober 1964), diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali dengan menetapkan Majelis keagamaan bernama Parisada Hindu Bali, yang selanjutnya menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia

Sunday, 17 November 2013

Khasiat Buah Delima

Buah Delima (Punica Granatum) di Indonesia, khususnya suku Jawa, identik dengan tradisi tujuh bulanan. Di luar itu, tak banyak orang mengonsumsi buah berukuran sebesar jeruk atau apel ini. Padahal, bila dikonsumsi setiap hari delima bakal membuat jantung makin sehat.

Delima berasal dari bahasa Perancis, pome garnete, yang berarti apel berbiji. Di Amerika, minuman yang berasal dari delima kini sedang naik daun. Selain rasanya yang segar dan manis, buah yang di AS disebut pomegranate ini disukai karena khasiatnya.

Menurut berbagai literatur, delima kaya antioksidan polyphenol seperti tanin dan anthocyanin. “Faktanya, antioksidan dalam delima lebih banyak dibanding teh hijau atau jus cranberry,” kata Karen Collins, ahli nutrisi dari American Institut for Cancer Research, seperti dikutip dalam newsletter Nutrition Wise.

Khasiat delima untuk kesehatan di antaranya meningkatkan aliran darah ke jantung. Penelitan terhadap 45 orang yang menderita penyakit jantung iskmemik menunjukkan mereka yang minum 8 ons jus delima setiap hari selama 3 bulan, tidak mengalami iskemia selama penelitian. Dean Ornish MD, peneliti, percaya bahwa jus delima bahkan bisa mencegah penyakit jantung.

Selain itu, kandungan anti-oksidan dalam delima diketahui mampu mencegah timbulnya plak di pembuluh darah, juga mengurangi kadar kolesterol jahat, LDL. Demikian menurut penelitian yang dilakukan para ahli dari Israel.

Banyak pakar yang mengatakan masih dibutuhkan penelitian lebih dalam sebelum menyimpulkan delima sebagai pencegah penyakit jantung. Namun, tak sedikit pakar yang optimistis dengan buah ini. Apalagi penelitian tidak menemukan adanya efek samping negatif dari konsumsi jus delima.

Tuesday, 11 June 2013

Kirana Hanindya Joesafira

ALBUM KECIL NINDYA -Q








Friday, 7 June 2013

Soal ujian SD semester II


DOWNLOAD SOAL SD SEMESTER II TP. 2012-2013

Kelas I
  1. Agama
  2. P K N
  3. Bahasa Indonesia
  4. Matematika
  5. I P A
  6. I P S
KELAS II
  1. Agama
  2. P K N
  3. Bahasa Indonesia
  4. Matematika
  5. I P A
  6. I P S
KELAS III
  1. Agama
  2. P K N
  3. Bahasa Indonesia
  4. Matematika
  5. I P A
  6. I P S
KELAS IV
  1. Agama
  2. P K N
  3. Bahasa Indonesia
  4. Matematika
  5. I P A
  6. I P S
KELAS V
  1. Agama
  2. P K N
  3. Bahasa Indonesia
  4. Matematika
  5. I P A
  6. I P S
KELAS VI
  1. Agama
  2. P K N
  3. Bahasa Indonesia
  4. Matematika
  5. I P A
  6. I P S
UNTUK SEMENTARA FILE BELUM KAMI UPLOAD SAMPAI AKHIR PROSES UJIAN SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2012-2013

Sunday, 2 June 2013

Pengertian Tasawuf amali

PENGERTIAN TASAWUF AMALI

Tasawuf amali lebih menekankan pembinaan moral dalam upaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Untuk mencapai hubungan yang dekat dengan Tuhan, seseorang harus mentaati dan melaksanakan syariat atau ketentuan ketentuan agama. Ketaatan pada ketentuan agama harus diikuti dengan amalan amalan lahir maupun batin yang disebut tariqah. Dalam amalan-amalan lahir batin itu orang akan mengalami tahap demi tahap perkembangan ruhani. Ketaatan pada syari’ah dan amalan-amalan lahir-batin akan mengantarkan seseorang pada kebenaran hakiki (haqiqah) sebagai inti syariat dan akhir tariqah. Kemampuan orang mengetahui haqiqah akan mengantarkan pada ma’rifah, yakni mengetahui dan merasakan kedekatan dengan Tuhan melalui qalb. Pengalaman ini begitu jelas, sehingga jiwanya merasa satu dengan yang diketahuinya itu.

Tasawuf ‘Amali adalah tasawuf yang membahas tentang bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah. Terdapat beberapa istilah praktis dalam Tasawuf ‘Amali, yakni syari’at, Thariqat, dan Ma’rifat.

1. Syari’at dan Thariqat

Secara umum syaria’t adalah segala ketentuan agama yang sudah ditetapkan oleh Allah untuk hambanya. Bagi orang-orang sufi, syari’at itu ialah amal ibadah lahir dan urusan muamalat mengenai hubungan antara manusia dengan manusia. Definisi lain mengatakan bahwa Syari’at adalah kualitas amal lahir –formal yang ditetapkan dalam ajaran agama melalui Al-qur’an dan sunnah. Sebab itu, dapat dikatakan bahwa syari’at adalah ilmu ibadah yang cenderung hanya menyentuh aspek lahir manusia dan tidak menyentuh aspek batin manusia.

Ath-Thusi dalam Al-Luma’ mengatakan bahwa syari’at adalah suatu ilmu yang mengandung dua pengertian, yaitu riwayah dan dirayah yang berisikan amalan-amalan lahir dan batin.Selanjutnya yang perlu dipahami adalah bahwa apabila syari’at di artikan sebagai ilmu yang riwayah adalah segala macam hukum teoritis yang termaktub dan terurai dalam ilmu fiqih yakni ilmu-ilmu teoritis yang bersifat lahiriah. Sebaliknya, apabila syari’at diartikan sebagai ilmu yang dirayah maka makna dari syari’at itu adalah makna batiniah dari ilmu lahiriah atau dapat disebut dengan makna hakikat dari ilmu fiqih itu sendiri. Sehingga, bila dikaitkan dengan para fuqaha dan sufi yang memiliki perbedaan pandangan, syari’at yang bersifat riwayah adalah macam ilmu yang disebut dengan fiqih, yakni ilmu yang menyentuh aspek lahiriah saja. Sedangkan syari’at yang berkonotasi dirayah adalah ilmu yang sekarang ini dikenal dengan ilmu tasawuf yakni ilmu yang cenderung menyentuh aspek batiniah.

Mengenai syari’at ini para ahli sufi lebih menekankan pada aspek hakekat atau makna batiniah dari dari ilmu lahiriah (syari’at) ketimbang para ahli fiqih yang hanya menekankan pada aspek lahiriyah saja. Memang pada dasarnya syari’at adalah simbol hukum yang mengatur kehidupan agama yang bersifat lahiriyah. Namun menurut para sufi hal ini tidak berkaitan dengan kenyataan batin. Kenyataan batin dan iman itu diluar jangkauan dari syari’at (ilmu yang bersifat lahiriah) dan hal ini hanya dapat dilihat dan dimengerti dengan jalan sufi. Menurut keyakinan sufi, seseorang akan mencapai hakikat suatu ibadah apabila mereka telah menempuh jalan yang menuju pada hakikat tersebut, yakni thariqat.

Thariqat menurut istilah tasawuf adalah jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi dalam mencapai tujuan berada sedekat mungkin dengan tuhan. Thariqat adalah jalan yang ditempuh para sufi dan digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syari’at, sebab jalan utama disebut syar’, sedangkan anak jalan disebut dengan thariq. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa thariqat adalah cabang dari syari’at yang merupakan pangkal dari suatu ibadah. Hal ini dapat pula digambarkan bahwa tidak mungkin adanya suatu ibadah yang dilakukan tanpa adanya perintah yang mengikat. Sehingga untuk menempuh anak jalan yang menuntun kepada hakikat tujuan ibadah harus mengerti terlebih dahulu akar atau pangkal dari jalan tersebut, yaitu syari’at (landasan hukum). Sehingga dapat digambarkan bahwa jalan-jalan tersebut terbagi kedalam tiga batasan antara manusia dan teologis, yakni syari’at, thariqat dan hakikat. Dalam hal ini, terdapat pepatah sufi yang mengatakan “untuk mencapai haqiqah (inti) anda harus mampu menghancurkan kulit”. Yakni makna essensial melebihi makna-makna yang bersifat eksotoris dan tidak dapat direduksikan dalam bentuk luaran yang bersifat eksotoris

2. Ma’rifat

Ma’rifat berasal dari kata ‘arafa, yu’rifu, ‘irfan, ma’rifah artinya adalah pengetahuan, pengalaman dan pengetahuan illahi. Ma’rifat adalah kumpulan ilmu pengetahuan, perasaan, pengalaman, amal dan ibadah kepada Allah SWT.Dalam istilah tasawuf ma’rifat adalah pengetahuan yang sangat jelas dan pasti tentang tuhan yang diperoleh melalui sanubari.

Al-Ghazali secara terperinci mengemukakan pengertian ma’rifat kedalam hal-hal berikut:
  • Ma’rifat adalah mengenal rahasia-rahasia Allah dan aturan-aturan-Nya yang melingkupi seluruh yang ada;
  • Seseorang yang sudah sampai pada ma’rifat berada dekat dengan Allah, bahkan ia dapat memandang wajahnya
  • Ma’rifat datang sebelum mahabbah.
Sebagian besar para sufi mengatakan bahwa ma’rifat adalah puncak dari tasawuf, yakni mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Oleh karena itu, para sufi berkeyakinan bahwa setiap orang yang menempuh jalan tasawuf dan mengamalkannya dengan sungguh-sungguh ia akan sampai pada akhir tujuan tasawuf itu sendiri yaitu mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, yakni ma’rifat.

Para sufi beranggapan bahwa ma’rifat adalah ilmu laduni, yakni ilmu yang di diperoleh dari anugerah tuhan yang tidak dapat didapat lewat usaha manusia.Hal ini berarti bahwa ilmu ini diberikan oleh tuhan kepada hambanya yang diistimewakan atau dipilih melalui ketakwaan, kesalehan dan sufi. Untuk mendapatkan ma’rifat seorang sufi harus menyucikan jiwa dari perbuatan-perbuatan yang kotor dan memperbaiki diri dengan sebaik-baiknya serta melakukan pendakian tingkatan-tingkatan rohani yang disebut dengan maoqamat yang mana tujuan akhir dari pendakian tersebut adalah ma’rifat yakni mengenal Allah dengan sebenar-benarnya

Hadah, menghapus sifat-sifat yang tercela, melintasi semua hambatan itu, dan menghadap total dengan seganap esensi diri hanya kepada Allah SWT. Di dalamnya terdapat kaidah-kaidah suluk (perjalanan tarbiyah ruhiyah), macam-macam etika (adab) secara terperinci, seperti hubungan antara murid dengan shaykh, ‘uzlah dengan khalwah, tidak banyak makan (al-ju’), mengoptimalkan waktu malam, diam, memperbanyak dzikir, dan semua yang berkaitan dengan kaidah-kaidah suluk dan adab. Pada hakikatnya metode kaum sufi ini hanyalah sebuah lanjutan atau pengembangan dari tasawuf nazari (tasawuf Sunni). Dinamakan tasawuf ‘amali adalah karena sisi amal di dalamnya lebih dominan dari sisi nazari (teori), akan tetapi tidak berarti tasawuf ini kosong dari teori, bahkan sisi ini lebih sempurna dan komprehensip dari sisi pertama. Istilah ‘amali di sini menunjukkan bahwa tasawuf ini telah menjadi sebuah madrasat tariqah (tarbiyah ruhiyah kolektif) yang terorganisir.

Tasawuf ini berawal dari sifat zuhud, kemudian tasawuf dan akhlak (Sunni), berakhir kepada sistem tarbiyah kolektif (tariqat jama’i). Inilah akar perkembangan tariqah yaitu semenjak abad keenam dan ketujuh hijriyah. Maka kita dapati tariqah ini adalah sebuah janji antara Shaykh dan muridnya untuk bertaubat, istiqomah, masuk kepada jalan Allah dan senantiasa mengingat-Nya (al-dhikr), serta beramal dengan etika dan dasar-dasar tariqah yang harus diikuti oleh seorang murid di samping melaksanakan wirid-wirid (rutinitas ibadah), serta al-hizb (gubahan do’a) Shaykh tariqah pada waktu-waktu yang telah ditentukan.

Tasawuf ini menjadi bentuk kolektif setelah sebelumnya berjalan secara individu-individu yang terpisah dan tidak terorganisir. Akhirnya tasawuf ini mereka namakan: “kumpulan individu-individu sufi yang berloyalitas kepada Shaykh tertentu, dan patuh terhadap sistem tarbiyah ruhiyah, hidup secara kolektif di zawiyah, rubbat}, dan khanaqah, mengadakan perkumpulan rutin pada kesempatan-kesempatan tertentu, serta mengadakan majlis-majlis ilmu dan dzikir secara teratur. Kajian tasawuf ‘amali> ini berkembang pada abad 3 dan 4 H. Pada masa ini terdapat dua kecenderungan para tokoh. Pertama cenderung pada kajian tasawuf yang bersifat ‘amali> yang didasarkan pada al-Qur’a>n dan al-Sunnah. Kedua cenderung pada kajian tasawuf falsafi> dan banyak berbaur dengan kajian filsafat metafisika.

Dalam lingkungan aliran pertama diantaranya muncul tiga orang penulis aliran tasawuf terkenal yang buku-bukunya masih dapat ditemukan dewasa ini.
  • Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi, seorang penulis kitab besar dan fundamentalis dalam tasawuf berjudul al-Luma’
  • Abu Talib al-Maki membuktikan keabsahan dari doktrin dan praktik sufi dalam karyanya Qut al-Qulub
  • AbuBakr al-Kalabazi penulis buku kecil Ta’aruf li Madhhab al-Tasawwuf. Ketiga penulis tersebut telah memperkenalkan doktrin dan praktik tasawuf yang muncul pada abad 4 H dan sebelumnya.
Imam terbesar tasawuf ‘amali, yang telah berhasil menyatukan antara teori dan amal adalah Shaykh Abd al-Qodir al-Jilani (470 H/1077 M - 561 H/1166 M), dia adalah orang pertama yang mendirikan madrasah ini dalam bentuk tariqah. Kemudian diikuti oleh Imam Ahmad al-Rifa’i(w.578 H/1106 M), Imam Abu al-H}asan al-Shadhili, dan Imam Baha’ al-Din Muhammad al-Naqshabandi (717-791 M), dan Imam lainya. Mereka adalah ulama-ulama dalam ilmu-ilmu Islam, dan teladan yang baik dalam akhlak yang mulia, serta para murshid yang membimbing untuk sampai kepada ma’rifah kepada Allah SWT dengan al-Qur’an dan al-Sunnah.

Sehingga tasawuf ‘amali ini identik dengan aliran tariqah sufiyyah yang didalamnya ada berbagai unsur praktik ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menekankan aspek amaliah. Artinya, dalam melaksanakan tasawuf tidak hanya sekedar teori tetapi juga praktik, sehingga lebih bisa merasakan tujuan utama daripada tasawuf yaitu dekatnya seorang makhluq kepada al-Khaliq

Sumber :
Drs. Totok Jumantoro, M.A dan Drs. Samsul Munir Amin, M.Ag. 2005. Kamus Ilmu Tasawuf. Wonosobo: Penerbit AMZAH.h. 263
Mukhtar Hadi, M.Si. 2009. Memahami Ilmu Tasawuf “Sebuah Pengantar Ilmu Tasawuf”. Yigyakarta : Aura Media, h 217
Drs. Totok Jumantoro, M.A dan Drs. Samsul Munir Amin, M.Ag. Op.Cit Hal. 239


Friday, 31 May 2013

Putri Sedaro Putih

PUTRI SEDARO PUTIH
(Asal mula Pohon Enau /Aren)

Oleh : Tun Jang
Cerita rakyat : Suku Rejang

Cerita ini berasal dari Suku Rejang. Dahulu di sebuah desa terpencil hidup tujuh orang bersaudara.Nasib mereka sungguh malang,mereka sudah menjadi yatim piatu semenjak si bungsu lahir. Tujuh saudara itu terdiri dari enam orang laki-laki dan seorang perempuan.Si bungsu itulah yang perempuan. Namanya putri sedoro putih.Tujuh orang bersaudara itu hidup sebagai petani dengan menggarap sebidang tanah di tepi hutan.Si bungsu sangat disayangi keenam saudaranya itu. Mereka selalu memberikan perlindungan bagi keselamatan si bungsu dari segala macam marabahaya.Segala kebutuhan si bungsu mereka usahakan terpenuhi dengan sekuat tenaga.

Pada suatu malam,ketika putri sedoro putih tidur, ia bermimpi aneh. Ia didatangi seorang laki-laki Dua. "Putri Sedoro Putih,kau ini sesungguhnya nenek dari keenam saudaramu itu. Ajalmu sudah dekat, karena itu bersiaplah engkau menghadapinya". "Saya segera mati? "tanya Putri Sedoro Putih dengan penuh penasaran.

"Benar,dan dari pusaran kuburanmu, nanti akan tumbuh sebatang pohon yang belum pernah ada pada massa ini. Pohon itu akan banyak memberi manfaat bagi umat manusia. " Setelah memberi pesan demikian lelaki tua itu , lenyap begitu saja. Sementara Putri Sedaro Putih langsung terbangun dari tidurnya. Ia duduk termangu memikirkan arti mimpinya. Putri sedaro putih sangat terkesan akan mimpinya itu, sehingga setiap hari ia selalu terbayang akan kematiannya. Makan dan minum terlupakan olehnya. Hal ini mengakibatkan tubuhnya menjadi kurus dan pucat. Saudara sulung sebagai pengganti orang tuanya sangat memperhatikan Putri Sedoro Putih. Ia menanyakan apa sebab adiknya sampai bersedih hati seperti itu. Apakah ada penyakit yang di idapnya sehingga perlu segera di obati ? Jangan sampai terlambat diobati sebab akibatnya menjadi parah .

Dengan menangis tersedu-sedu Putri Sedoro Putih menceritakan semua mimpi yang dialamainya beberapa waktu yang lalu.
Kata sedaro putih, "Kalau cerita dalam mimpi itu benar, bahwa dari tubuhku akan tumbuh pohon yang mendatangkan kebahagiaan orang banyak, aku rela berkorban untuk itu." "Tidak adiku, jangan secepat itu kau tinggalkan kami. Kita akan hidup bersama, sampai kita memperoleh keturunan masing-masing sebagai penyambung generasi kita. Lupakanlah mimpi itu. Bukankah mimpi sebagai hiasan tidur bagi semua orang ?", kata si sulung menghibur adiknya.

Hari-hari berlalu tanpa terasa. Mimpi itu pun telah dilupakan. Putri Sedoro Putih telah kembali seperti sempula, seorang gadis periang yang senang bekerja di huma. Hasil panen pun telah dihimpun sebagai bekal mereka selama semusim.
Pada suatu malam, tanpa menderita sakit terlebih dahulu Putri Sedaro Putih meninggal dunia. Keesokan harinya, keenam saudaranya menjadi gempar dan meratapi adik kesayangannya itu. Mereka menguburkannya tidak jauh dari rumah kediaman mereka.

Seperti telah diceritakan oleh Putri Sedoro Putih. Di tengah pusaranya tumbuh sebatang pohon asing. Mereka belum permah melihat pohon seperti itu. Pohon itu mereka pelihara dengan penuh kasih sayang seperti merawat Putri Sedaro Putih. Pohon itu mereka beri nama Sedaro Putih.

Disamping pohon itu, tumbuh pula pohon kayu kapung yang sama tingginya dengan pohon Sedaro Putih. Pohon itu pun dipelihara sebagai pohon pelindung .

Lima tahun kemudian. Pohon Sedaro Putih mulai berbunga dan berbuah. Jika angin berhembus, dari dahan kayu kapung selalu memukul tangkai buah Sedaro Putih sehingga menjadi memar dan terjadilah peregangan. Sel-sel yang mempermudah air pohon Sedaro Putih mengalir ke arah buah.

Pada suatu hari, seorang saudara Sedaro Putih berziarah ke kuburan itu. Ia beristirahat melepaskan lelah sambil memperhatikan pohon kapung selalu memukul tangkai buah pohon Sedaro Putih ketika angin berhembus. Pada saat itu, datang seekor tupai menghampiri buah pohon Sedaro putih dan menggigitnya sampai buah itu terlepas dari tangkainya. Dari tangkai buah yang terlepas itu, keluarlah cairan berwarna kuning jernih. Air itu dijilati tupai sepuas -puasnya. Kejadian itu diperhatikan saudara Sedaro Putih sampai tupai tadi pergi meninggalkan tempat itu. Saudara Sedaro Putih mendekati pohon itu. Cairan yang menetes dari dari tangkai buah ditampungnya dengan telapak tangan lalu dijilat untuk mengetahui rasa air tangkai buah itu. Ternyata, air itu terasa sangat manis. Dengan muka berseri ia pulang menemui saudara-saudaranya. Semua peristiwa yang telah disaksikannya, diceritakan kepada saudara-saudaranya untuk dipelajari. Cerita itu sungguh menarik perhatian mereka.

Lalu mereka pun sepakat untuk menyadap air tangkai buah pohon sedaro putih. Tangkai buah pohon itu dipotong dan airnya yang keluar dari bekas potongan ditampung dengan tabung dari seruas bambu yang disebut tikoa. Setelah sutu malam, tikoa itu hampir penuh. Perolehan pertama itu mereka nikmati Bersama sambil berbincang bagaimana cara memperbanyak ketika berziarah ke kubur putri sedaro putih.

Urutanya sebagai berikut. Pertama, menggoyang goyang kan tangkai buah pohon Sedaro Putih seperti dilakukan oleh angin. Lalu memukul tangkai buah itu dengan kayu kapung seperti yang terjadi ketika kayu kapung dihembus angin. Akhirnya, mereka memotong tangkai buah seperti dilakukan oleh tupai. Tabung bambu pun digantungkan disana. Ternyata, hasilnya sama dengan sadapan pertama. Perolehan mereka semakin hari semakin banyak karena beberapa tangkai buah yang tumbuh dari pohon Sedaro Putih sudah mendatangkan hasil. Akan tetapi, timbul suatu masalah bagi mereka, karena air sadapan itu akan masam jika disimpan terlalu lama. Lalu, mereka sepakat untuk membuat suatu percobaan dengan memasak air sadapan itu sampai kental. Air yang mengental itu didinginkan sampai keras membeku dan berwarna kekuningan.

Semenjak itu, pohon Sedaro Putih dijadikan sumber air sadapan yang manis. Pohon itu kini dikenal sebagai pohon enau atau pohon aren. Air yang keluar dari tangkai buah dinamakan nira, sedangkan air nira yang dimasak sampai mengental dan membeku disebut gula merah.


Makalah Macam-macam akhlak terhadap Allah

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Menjaga Akhlak kepada Allah K.H. Abdullah Gymnastiar Mudah-mudahan Allah SWT yg Maha Mengetahui siapa diri kita yg sebenar menolong kita agar dapat mengetahui kekurangan yg harus diperbaiki memberitahu jalan yg harus ditempuh dan memberikan karunia semangat terus-menerus sehingga kita tak dikalahkan oleh kemalasan tak dikalahkan oleh kebosanan dan tak dikalahkan oleh hawa nafsu. Dan mudah-mudahan pula warisan terbaik diri kita yg dapat diwariskan kepada keluarga keturunan dan lingkungan adl keindahan akhlak kita. Karena ternyata keislaman seseorang tak diukur oleh luas ilmu. Keimanan seseorang tak diukur oleh hebat pembicaraan. Kedudukan seseorang disisi Allah tak juga diukur oleh kekuatan ibadah semata. Tapi semua kemuliaan seorang yg paling benar Islam yg paling baik iman yg paling dicintai oleh Allah yg paling tinggi kedudukan dalam pandangan Allah dan yg akan menemani Rasulullah SAW ternyata sangat khas yaitu orang yg paling mulia akhlaknya. Walhasil sehebat apapun pengetahuan dan amal kita sebanyak apapun harta kita setinggi apapun kedudukan kita jikalau akhlak rusak maka tak bernilai. Kadang kita terpesona kepada topeng duniawi tapi segera sesudah tahu akhlak buruk pesona pun akan pudar. Yakinlah bahwa Rasulullah SAW diutus ke dunia ini adl utk menyempurnakan akhlak. Hal ini dinyatakan sendiri oleh beliau ketika menjawab pertanyaan seorang sahabat “Mengapa engkau diutus ke dunia ini ya Rasul?”. Rasul menjawab “Innama buitsu liutamimma makarimal akhlak” “Sesungguh aku diutus ke dunia hanyalah utk menyempurnakan akhlak”.

Setiap muslim meyakini, bahwa Allah adalah sumber segala sumber dalam kehidupannya. Allah adalah Pencipta dirinya, pencipta jagad raya dengan segala isinya, Allah adalah pengatur alam semesta yang demikian luasnya. Allah adalah pemberi hidayah dan pedoman hidup dalam kehidupan manusia, dan lain sebagainya. Sehingga manakala hal seperti ini mengakar dalam diri setiap muslim, maka akan terimplementasikan dalam realita bahwa Allah lah yang pertama kali harus dijadikan prioritas dalam berakhlak.

Jika kita perhatikan, akhlak terhadap Allah ini merupakan pondasi atau dasar dalam berakhlak terhadap siapapun yang ada di muka bumi ini. Jika seseorang tidak memiliki akhlak positif terhadap Allah, maka ia tidak akan mungkin memiliki akhlak positif terhadap siapapun. Demikian pula sebaliknya, jika ia memiliki akhlak yang karimah terhadap Allah, maka ini merupakan pintu gerbang untuk menuju kesempurnaan akhlak terhadap orang lain.

B. RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah adalah bagaimna akhlak terhadap Allah dan macam-macam akhlak terhadap Allah.


BAB II

PEMBAHASAN


A. MACAM-MACAM AKHLAK TERHADAP ALLAH

Diantara akhlak terhadap allah swt adalah:

1. Taat terhadap perintah-perintah-Nya.

Hal pertama yang harus dilakukan seorang muslim dalam beretika kepada Allah SWT, adalah dengan mentaati segala perintah-perintah-Nya. Sebab bagaimana mungkin ia tidak mentaati-Nya, padahal Allah lah yang telah memberikan segala-galanya pada
dirinya. Allah berfirman (QS. 4 : 65):

Maka demi Rab-mu, mereka pada hakekatnya
tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemdian mrekea tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap ptutusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”


Karena taat kepada Allah merupakan konsekwensi keimanan seorang muslim kepada Allah SWT. Tanpa adanya ketaatan, maka ini merupakan salah satu indikasi tidak adanya keimanan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW juga menguatkan makna ayat di atas dengan bersabda:


“Tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga hawa nafsunya (keinginannya) mengikuti apa yang telah datang dariku (Al-Qur’an dan sunnah)." (HR. Abi Ashim al-syaibani).

2. Memiliki rasa tanggung jawab atas amanah yang diembankan padanya.

Etika kedua yang harus dilakukan seorang muslim kepada Allah SWT, adalah memiliki rasa tanggung jawab atas amanah yang diberikan padanya. Karena pada hakekatnya, kehidupan inipun merupakan amanah dari Allah SWT. Oleh karenanya, seorang mukmin senantiasa meyakini, apapun yang Allah berikan padanya, maka itu merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban dari Allah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda:
Dari ibnu Umar ra, Rasulullah SAW bersabda:

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang amir (presiden/ imam/ ketua) atas manusia, merupakan pemimpin, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang suami merupakan pemimpin bagi keluarganya, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita juga merupakan pemimpin atas rumah keluarganya dan juga anak-anaknya, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya, dan ia bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Dan setiap kalian adalah pemimpin, dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya." (HR. Muslim)

3. Ridha terhadap ketentuan Allah SWT.

Etika berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah SWT, adalah ridha terhadap segala ketentuan yang telah Allah berikan pada dirinya. Seperti ketika ia dilahirkan baik oleh keluarga yang berada maupun oleh keluarga yang tidak mampu, bentuk fisik yang Allah berikan padanya, atau hal-hal lainnya. Karena pada hakekatnya, sikap seorang muslim senantiasa yakin (baca; tsiqah) terhadap apapun yang Allah berikan pada dirinya. Baik yang berupa kebaikan, atau berupa keburukan. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:

" sungguh mempesona perkara orang beriman. Karena segala urusannya adalah dipandang baik bagi dirinya. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia bersyukur, karena ia tahu bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena ia tahu bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR. Bukhari)

Apalagi terkadang sebagai seorang manusia, pengetahuan atau pandangan kita terhadap sesuatu sangat terbatas. Sehingga bisa jadi, sesuatu yang kita anggap baik justru buruk, sementara sesuatu yang dipandang buruk ternyata malah memiliki kebaikan bagi diri kita.

4. Senantiasa bertaubat kepada-Nya.

Sebagai seorang manusia biasa, kita juga tidak akan pernah luput dari sifat lalai dan lupa. Karena hal ini memang merupakan tabiat manusia. Oleh karena itulah, etika kita kepada Allah, manakala sedang terjerumus dalam ‘kelupaan’ sehingga berbuat kemaksiatan kepada-Nya adalah dengan segera bertaubat kepada Allah SWT. Dalam

Al-Qur’an Allah berfirman (QS. 3 : 135) :

"Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri mereka sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang dapat mengampuni dosa selain Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui."

5. Obsesinya adalah keridhaan ilahi.

Seseorang yang benar-benar beriman kepada Allah SWT, akanm memiliki obsesi dan orientasi dalam segala aktivitasnya, hanya kepada Allah SWT. Dia tidak beramal dan beraktivitas untuk mencari keridhaan atau pujian atau apapun dari manusia. Bahkan terkadang, untuk mencapai keridhaan Allah tersebut, ‘terpakasa’ harus mendapatkan ‘ketidaksukaan’ dari para manusia lainnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW pernah menggambarkan kepada kita:

"Barang siapa yang mencari keridhaan Allah dengan ‘adanya’ kemurkaan manusia, maka Allah akan memberikan keridhaan manusia juga. Dan barang siapa yang mencari keridhaan manusia dengan cara kemurkaan Allah, maka Allah akan mewakilkan kebencian-Nya pada manusia." (HR. Tirmidzi, Al-Qadha’I dan ibnu Asakir).

Dan hal seperti ini sekaligus merupakan bukti keimanan yang terdapat dalam dirinya. Karena orang yang tidak memiliki kesungguhan iman, otientasi yang dicarinya tentulah hanya keridhaan manusia. Ia tidak akan perduli, apakah Allah menyukai tindakannya atau tidak. Yang penting ia dipuji oleh oran lain.

6. Merealisasikan ibadah kepada-Nya.

Etika atau akhlak berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah SWT adalah merealisasikan segala ibadah kepada Allah SWT. Baik ibadah yang bersifat mahdhah, ataupun ibadah yang ghairu mahdhah. Karena pada hakekatnya, seluruh aktiivitas sehari-hari adalah ibadah kepada Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an Allah berberfirman (QS. 51 : 56):

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Oleh karenanya, segala aktivitas, gerak gerik, kehidupan sosial dan lain sebagainya merupakan ibadah yang dilakukan seorang muslim terhadap Allah. Sehingga ibadah tidak hanya yang memiliki skup mahdhah saja, seperti shalat, puasa haji dan sebagainya. Perealisasian ibadah yang paling penting untuk dilakukan pada saat ini adalah beraktivitas dalam rangkaian tujuan untuk dapat menerakpak hokum Allah di muka bumi ini. Sehingga Islam menjadi pedoman idup yang direalisasikan oleh masyarakat Islam pada khususnya dan juga oleh masyarakat dunia pada umumnya.

7. Banyak membaca al-Qur’an.

Etika dan akhlak berikutnya yang harus dilakukan seorang muslim terhadap Allah adalah dengan memperbanyak membaca dan mentadaburi ayat-ayat, yang merupakan firman-firman-Nya. Seseeorang yang mencintai sesuatu, tentulah ia akan banyak dan sering menyebutnya. Demikian juga dengan mukmin, yang mencintai Allah SWT, tentulah ia akan selalu menyebut-nyebut Asma-Nya dan juga senantiasa akan membaca firman-firman-Nya. Apalagi menakala kita mengetahui keutamaan membaca Al-Qur’an yang dmikian besxarnya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW mengatakan kepada kita:

"Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Qur’an itu dapat memberikan syafaat di hari kiamat kepada para pembacanya." (HR. Muslim).

Adapun bagi mereka-mereka yang belum bisa atau belum lancar dalam membacanya, maka hendaknya ia senantiasa mempelajarinya hingga dapat membacanya dengan baik. Kalaupun seseorang harus terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an tersebut, maka Allah pun akan memberikan pahala dua kali lipat bagi dirinya. Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda:

"Orang (mu’min) yang membaca Al-Qur’an dan ia lancar dalam membacanya, maka ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi suci. Adapun orang mu’min yang membaca Al-Qur’an, sedang ia terbata-bata dalam membacanya, lagi berat (dalam mengucapkan huruf-hurufnya), ia akan mendapatkan pahala dua kali lipat." (HR. Bukhori Muslim)

B. ANALISIS

Kalau kita mendengar kata akhlak seakan fokus pikiran kita hanya terbentuk pada senyuman dan keramahan. Padahal maksud akhlak yg sebenar jauh melampaui sekedar senyuman dan keramahan. Karena penjabaran akhlak dalam perilaku sehari-hari bukanlah suatu hal yg terpecah-pecah semua terintegrasi dalam satu kesatuan utuh termasuk bagaimana akhlak kita kepada Allah. Akhlak kita kepada Allah SWT harus dipastikan benar-benar bersih. Orang yang menjaga akhlak kepada Allah hati benar-benar putih seperti putih air susu yg tak pernah tercampuri apapun. Bersih sebersih-bersihnya. Bersih keyakinan tak ada sekutu lain selain Allah. Tidak ada satu tetes pun di hati meyakini kekuatan di alam semesta ini selain kekuatan Allah SWT sehingga ia sangat jauh dari sifat munafik.Tapi kenyataannya sekarang mengapa masih banyak diantara kita yang seolah jauh dari semua itu? Padahal dari sekolah tingkat dasar kita sudah diajarkan tentang bagaimana kewajiban kita terhadap Allah, bahkan sejak kecil sudah di beritahukan tentang semua itu toh sekarang kenapa masih banyak yang tidak mengamalkannya ?


BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN


Dari pembahasan makalah ini, penulis menyimpulkan, bahwa akhlak kepada Allah merupakan pondasi dasar yang harus di bangun , karena jika seseorang benar- benar memiliki akhlak yang baik terhadap Allahnya, maka akhlaknya terhadap manusia dan lingkungan pun akan ikut baik.begitupun sebaliknya.




DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Zakiy Al – Kaaf , “ Membentuk Akhlak ( Mempersiapkan Generasi Islami ), Pustaka Setia, Bandung, 2001
Mustofa, Akhlak Tasawuf, Pustaka setia, Bandung, 1997
Al-Ghazali, Rindu dan Cinta kepada Allah , Pustaka Panji Mas, Jakarta, 2005


Editor by : Weni Wertati

Thursday, 28 February 2013

Cara aman membersihkan telinga

Oleh: Erly Susana

Tak selamanya membersihkan telinga itu baik. Salah penggunaan, justru bisa terjadi iritasi pada telinga, atau bahkan komplikasi pada alat dengar.

Pada dasarnya, seperti disampaikan dr. Kartika Dwiyani, SpTHT, yang perlu diketahui bahwa liang telinga itu terdiri atas lapisan kulit yang mengandung kelenjar. Lapisan terluarnya akan selalu mengalami pengelupasan secara alami.

Sementara kotoran telinga atau yang biasa disebut serumen, merupakan campuran dari hasil produksi kelenjar di liang telinga dengan pengelupasan tadi. Semua ini berfungsi untuk pembersihan, perlindungan telinga, serta pelumasan liang telinga.

“Jadi secara normal ada mekanisme pembersihan telinga secara otomatis (self cleansing). Kotoran telinga akan bergerak ke luar dari liang telinga dengan bantuan gerakan rahang saat mengunyah atau berbicara,” ujarnya.

Mengapa bisa terjadi penumpukan serumen? “Itu karena proses self cleansing tidak berfungsi dengan baik,” tambahnya.

Penyebab lainnya, yaitu kecepatan produksi serumen yang berbeda-beda pada setiap individu, atau penggunaan alat bantu dengar. “Bisa juga karena ada kelainan kulit liang telinga dan ukuran liangnya yang sempit,” ungkapnya.

Namun Kartika menegaskan, penumpukan kotoran telinga ini hanya terjadi pada 1 dari 10 anak, 1 dari 20 orang dewasa, dan sepertiga dari populasi lanjut usia. Dampak penumpukan bisa berupa gangguan pendengaran, rasa berdengung di liang telinga, atau rasa nyeri pada liang telinga. Pada tahap ini, dia menyarankan perlunya tindakan medis berupa pembersihan liang telinga oleh dokter yang kompeten.

Walaupun ada potensi penumpukan kotoran pada liang telinga, dia menyarankan agar tidak asal saat membersihkannya. Misalnya saat menggunakan cotton bud atau pembersih dari kapas. Yang lebih bahaya lagi adalah ketika kotoran telinga berjenis semi padat atau padat. “Yang terjadi justru kotoran terdorong ke dalam, menekati gendang telinga,” ujarnya.

Dampak lain adalah iritasi pada kulit liang telinga akibat gesekan yang dapat menyebabkan infeksi. Lebih parah lagi, lanjut dokter THT yang praktek di RS Jakarta itu, penggunaan cotton bud yang terlalu dalam pada liang telinga juga dapat menyebabkan tertusuknya gendang telinga hingga berakibat kebocoran gendang telinga.

Sementara terkait dengan penggunaan ear candle atau lilin terapi telinga, Kartika memastikan belum adanya bukti medis mengenai manfaat penggunaannya. Mengutip sebuah penelitian pada 1996 di Amerika, dia menuturkan, ternyata tidak ada pembersihan serumen pada pasien yang telah proses ear candling.

Pada proses penelitan selanjutnya, dia mengungkapkan, “survei dilakukan terhadap 122 dokter spesialis THT di Amerika.”

Hasilnya menakjubkan. Dari pengakuan para dokter yang jadi responden itu, ditemukan 21 kasus komplikasi langsung setelah menjalani ear candling. Sebanyak 13 pasien mengalami luka bakar di daun telinga, 7 pasien mengalami penyumbatan di liang telinga dan 1 pasien mengalami kebocoran gendang telinga.

Pada komplikasi tidak langsung, ditemukan: 3 pasien mengalami infeksi pada liang telinga luar dan 6 pasien lainnya mengalami penurunan pendengaran sementara.

Selanjutnya, agar pembersihan liang telinga tetap aman, dokter spesialis dari Universitas Indonesia ini memberikan beberapa saran:
  1. Mengingat adanya mekanisme self cleansing, tidak perlu terlalu sering membersihkan bagian dalamnya. “Variasi waktunya memang berbeda bagi setiap individu, karena perbedaan kondisi anatomi dan kecepatan produksi serumen di liang telinga,” katanya.
  2. Untuk menjaga kebersihan, cukup bersihkan liang telinga bagian luar saja.
  3. Penggunaan cotton bud, tissue lembut, atau kapas hanya untuk membersihkan daun telinga dan bagian luar dari liang telinga. Tidak untuk dimasukkan ke dalam liang telinga.
  4. Kalaupun menggunakan cotton bud, pilihlah yang berkualitas baik, sehingga terhindar dari risiko terlepasnya kapas dari tangkainya atau pun patahnya tangkai cotton bud.
  5. Hindari penggunaan cotton bud yang menimbulkan gesekan terlalu kuat pada kullit dinding liang telinga.
  6. Untuk pembersihan liang telinga bagian lebih dalam, dapat dilakukan dengan kontrol teratur ke dokter spesialis THT, misalnya enam bulan sekali. “Bisa juga tergantung dari kondisi dan keluhan yang dialami masing-masing pasien.

Tuesday, 1 January 2013

PERATURAN PEMASANGAN IKLAN

  1. Gambar Iklan Format PNG Selain itu jangan.
  2. Ukuran Gambar Harus 300 x 250 pixels (Untuk side bar) atau 250 x 250 pixels tidak boleh lebih.
  3. Iklan anda akan kami tampilkan minimal 3 hari dan maksimal 1 minggu sejak iklan di publikasi.
  4. Iklan yang akan di tampilkan tidak boleh berbau pornografi.
  5. Iklan yang di tampilkan boleh bebas kecuali pada poin ke-4.
  6. Iklan yang dikirim harus berupa kode HTML.
  7. Iklan dikirim ke Email kami. ( jokopartomo@gmail.com )
  8. Jika sudah jatuh tempo pemasangan, Iklan akan dihapus tanpa pemberitahuan.
  9. Terimakasih.